Postingan

Ah, Ara!!

Dulu, ada gadis kecil dengan gaun berenda suka duduk menekuk lutut dibawah pohon pinus tua tak berdaun. Kepalanya tak sekalipun diangkat. Sepuluh meter dari itu ada gundukan tanah, seperti kuburan, tapi tanpa papan pengenal.

Lamat lamat, gadis kecil itu tumbuh, seiring berseminya pohon pinus dengan daun kecil kecil, ah mungkin karena hujan panas silih berganti. Tapi disana masih ada gadis, ia tak bergaun tepian renda, tapi berjubah hitam menutupi, tudung hitam menjuntai, wajah putih pucat, matanya hitam sembab, memandangi gundukan tanah, tapi kali ini berpapan nama. Ternyata, gadis itu rupanya sudah bisa menulis sekarang.

"Ara"

Begitu yang tertulis pada papan tertancap paku pada batang pinus itu. Dibawahnya ada serupa batu lepes, tempat ia rehat, mengingat masa singkat bersama wanita yang ia sebut ibu, mungkin pun ia sudah lupa pada rupa wanita itu.
Omong-omong, pinus itu serupa rumah rumah baginya.

"Ibu"

Begitu yang tertulis pada papan yang di tancap pada gunduka…

Kabar Duka di Bulan Bahagia

Setumpuk pilu menghantam hati yang memang sudah retak sejak dulu Serupa cawan yang berisi empedu Dipecah oleh deru luka dan jeritannya menggema - gema
Seratus hari sebelum hari ini Saat dingin malam perlahan turun, waktu itu jam belum genap menunjuk pukul 00:00 Seorang wanita tua menatap ku penuh pilu sedang dipelupuk mata kirinya mengalir air mata duka Serupa kata perpisahan
Belum juga selesai lantunan ayat - ayat cinta yang mengalun pelan, membisik dalam khusu' deraian air mata menetesi lembar lembar yang mulai usang oleh zaman Mata yang menatap itu mulia terlihat aneh dengan napas tak beraturan satu - satu
Sebuah rasa cemas, takut, sedih dan pilu yang mebuncah hebat berkelabat Aku ingin meledak seperti buih di tepi karaang Sungguh tak bisa diurai oleh lisan dilukis oleh sejuta kuas
Sedih tak bertepi, tumpah ruah dan membentuk kawah

Di ujung malam yang begitu sunyi,
di sebuah ruang, tak ada satu pasang mata pun yang bisa memandang
Dengan satu perintah dari Tuhan, sang pemegan…
Seperti jalan setapak yang menyusuri hutan belantara Sesekali datar, sesekali landai, sisanya curam dan bertebing
Sekilas tanpa ujung, berakhir entah dimana
seperti sebuah harap  seperti sebuah cita seperti sebuah doa Yang entah berlabuh dimana 
Bak pelaut yang terombang ambing di tengah lautan Hanya bisa menatap tepi dari kejauhan Terlalu banyak angin yang menyeret
Ini rahasia Ah berkali kali kukatakan begitu Tapi gejolak hati membuncah kuat Menolak untuk percaya  Tentang rencana Tuhan Yang Dia rencanakan diam diam 

Mentari naik di pagi berembun hari ini
Dipojok kampung ada kayu cemara yang mulai meranggas
seorang gadis dengan buku lusuh diam disitu
gaun berenda bunga, dengan alas kaki yang mulai terbuka
merangkul kedua lutut dan menekuk dagu
ah, dia malu malu padaku

seliwiran angin menderu-deru
menyibakan rambut yang terurai jatuh ke bahu
matanya membiru, bibirnya pun kelabu
menutup diri, bersedih hati sendiri

seperti kapas yang dihempas angin
terbang satu satu ke penjuru
nafas beratnya terdenger satu satu
ah, dia pun masih malu malu padaku


sedikit sedikit aku tahu,
dia adalah bayang ku
yang sembunyi malu
menutup luka dan pilu
dibawah cemara yang menanti mati 

Angin menyeret ku ke tempah asing nan jauh,
langkah ini mulai tertatih-tatih, terseret, dan terengah-engah menapaki jalan yang duri dan kerikil tajamnya berserak-serak.
Ah, itu karena aku yang sedikit tidak mendengarkan. Ah, itu karena aku sedikit tidak mau melihat.
Begitu kata orang-orang menyalahkan.

Kaki kecilku berlumuran. Bercampur darah dan nanah. Setapak-setapak, dan terseok. Mereka hanya diam berpandang pandangan, orang asing itu nanar melecehkan.
Tanpa arah, malam pun turun di tengah rintik.
Kaki kecilku, berubah biru.

Kaki kecilku, terlihat aneh
sama seperti orang-orang asing itu
Kaki kecilku, hanya ingin menanti.
Menanti angin yang menyeretku, kembali.


JORS

Langit mendung tadi pagi belum sepenuhnya sirna sore ini. Ada semburat jingga diatara
hehimpitan awan diatas. Meski gulita terlalu dini untuk datang, tetapi bulan penuh terlihat. Aku
tak akan menyadari dia ada, jika saja awan yang menutupinya tidak bergerak menjauh. Hanya
dibawah ini yang menyesakkan dada. Macet. Ditambah karbon monoksida dua ratus ppm yang
baru saja kuhirup. Ini akan membuat paru-paruku menua dengan sempurna sebelum waktunya.
Ah, tubuh mungil ku. Berat ku melesat turun delapan kilo baru-baru ini. Para model akan iri
mendengarnya, itu jika telinga mereka seperti sinyal ponselku. Jika mata mereka seperti satelit
pengintai Amerika, para model itu akan tertawa. Kenapa? Karena tinggiku tak lebih dari 145cm.
Sekali lagi dari balik jendela angkot ini, kupandang keatas. Biru, abu-abu, jingga, dan putih.
Bagaimana pun lukisan Sang Maestro itu sungguh menawan. Sama menawannya dengan
ciptaan-Nya yang lain, termasuk aku. Percayalah.

Jika tidak macet, tentu aku sudah …

Pemilik Tali itu, ibu...

Dulu, 21 tahu sebelum hari ini, saat itu ada sesorang yang mengaku malaikat datang menyapa, menghibur dan mengabarkan yang belum ku menggerti hampir setiap waktu. Menggoda dan bercerita banyak.

“aku ini siapa?”, tanyaku.
“kamu?”,  tuan itu balik bertanya seolah mempermaikan ku. Begitu aku menyebutnya.
“iya, aku. Apa kau mengenalku?. Kenapa selalu datang dan mengajakku  bermain, selalu saja menceritakan sesuatu yang aku tak mengerti”, jelasku dengan panjang.
“kami ini datang diutus oleh Tuhan, menemanimu dan memperhatikan mu sampai pada waktu yang sudah ditetapkan”, jawab orang itu dengan penuh wibawa.
“apaa??, jadi temanku?, katakan pada tuhanmu, aku juga ingin bertemu. Bagaima kalau kita bermain berempat saja. Pasti seru. Tapi kalian belum menjawab, siapa aku ini?. ayolah, jujurlah padaku”, selidikku dengan pelan.
“lupakanlah, kami juga belum tahu kamu ini siapa. Kelak akan ada yang memberi tahumu siapa sebenarnya kau. Ayo kita bermain saja. Hari ini aku dan dia mau mengajakmu kese…