Jumat, 22 September 2017

Ah, Ara!!

Dulu, ada gadis kecil dengan gaun berenda suka duduk menekuk lutut dibawah pohon pinus tua tak berdaun. Kepalanya tak sekalipun diangkat. Sepuluh meter dari itu ada gundukan tanah, seperti kuburan, tapi tanpa papan pengenal.

Lamat lamat, gadis kecil itu tumbuh, seiring berseminya pohon pinus dengan daun kecil kecil. Ah mungkin juga karena hujan panas datang dan pergi silih berganti. Tapi disana masih ada gadis, Ia tak bergaun tepian renda lagi seperti belasan tahun silam, tapi berjubah hitam menutupi, sedikit menyentuh bumi, tudung hitam menjuntai, wajah putih pucat, mata hitam sembab, pekat, tapi teduh, memandang gundukan tanah. Sekarang gundukan itu sudah ada papan, sedikit usang. Ternyata, gadis itu rupanya sudah bisa menulis sekarang.

"Ibu"

Begitu saja yang tertulis pada papan  itu. Kenapa?. Tidak kah ada sebuah nama?. Ia tak sempat tahu. Sepertinya.

Rumah dan segala kehangatannya, ia tak punya. Ia juga tak punya album. Oleh karena itu Ia tak ingat seperti apa rupanya ketika Ia 5 tahun. Perayaan ulang tahun?. Ah itu terlalu mewah untuknya. Belum pernah sekalipun di rayakan.

Mungkin karena itu mata indahnya kelihatan sembab dengan cawan hitam mengembung. Terlalu sering musim hujan datang, langit jadi mendung dan tak bersinar terang.

Kenangan?
Itu serupa bawang merah.

Lihat lah jarinya, tak tersemat barang mewah pun disana.
Mungkin, tak jatuh pun bulir air mata sudah sangat mewah sekali baginya.

Ah, ara!.
Lihat lah, tatapannya kembali kosong. Menembus penjuru meski terlihat sayu.

Jumat, 08 April 2016

Sebuah Rumah yang Megah

Sejujurnya Aku sangat beryukur bisa lahir di keluarga sederhana yang tak kaya.
Juga sangat bersyukur terlahir di keluarga yang ayah dan ibunya apa adanya.
Jauh dari kesan megah, mewah dan sibuk yang membuncah.

Kekurangan-kekurangan duniawi itu tidak masalah,
Kesusahan-kesusahan duniawi juga tak masalah,

Tak perlu juga menjadi anak-anak modren yang berkaki panjang
Tempat barang-barang mewah disandarkan

Semuanya tak perlu...

Karena Aku punya rumah megah,
Sebuah rumah yang memberi kehangatan yang indah
Sambutan megah nan mengikis rasa payah

Sebuah rumah yang selalu menyeret kembali meski sudah terdampar dipulau berduri
Sebuah rumah yang selalu bilang. "semoga indah hari mu hari ini"
Sebuah rumah yang selalu bilang, "cepat pulang, ada yang kurang tanpamu disini"

Sebuah rumah yang menangis lebih dalam saat luka menghampiri
Sebuah rumah yang bahagia lebih dalam saat tawa menghampiri
Sebuah rumah yang megah ...........

Rumah yang menjadi megah karena ada ibu disana
Rumah yang menjadi megah karena ada cinta ibu disana
rumah yang menjadi mewah karena ada senyum ibu disana....


Ibu adalah rumah,  tempat kembali dan tempat yang paling dicari.
"Semoga cepat sembuh, ibu......"


Kutacane, Juni 2014

Senin, 22 September 2014

Kabar Duka di Bulan Bahagia

Setumpuk pilu menghantam hati yang memang sudah retak sejak dulu
Serupa cawan yang berisi empedu
Dipecah oleh deru luka
dan jeritannya menggema - gema

Seratus hari sebelum hari ini
Saat dingin malam perlahan turun,saat  itu sepertinya jam belum genap menunjuk 00:00
Seorang wanita paruh baya menatap ku pilu
sedang dipelupuk mata kirinya mengalir air mata duka
Serupa tanda  perpisahan

Belum juga selesai lantunan ayat - ayat cinta dengan suara lirih itu, tertatih, sekali kali tertahan oleh isak yang menyesakan, berbisik dalam khusu' deraian air mata
menganak dan menggenangi lembar lembar Alquran. Kiranya karena itu Aku sedikit tegar. Tak ikut lusuh oleh sedih yang memburu.
Kedua mata ibu mulai terlihat aneh, tak terdefinisi,
dengan napas tak beraturan satu - satu

Sebuah rasa cemas, takut, sedih dan pilu yang mebuncah hebat
berkelabat
Aku ingin meledak seperti buih di tepi karaang
Sungguh tak bisa diurai oleh lisan


Di ujung malam yang senyap,
di sebuah ruang, tak ada satu pasang mata pun yang bisa memandang
Dengan satu perintah dari Tuhan, Sang pemegang kehidupan
dengan kata Illah yang hanya bisa diucap oleh gerakan lidah, tanpa suara
Nafas terakhir telah berhembus.....
Nafas terakhir telah berhembus.....
Mata sayu itu telah tertutup
wajah Ibu mulai memucat....
perlahan, tubuh Ibupun terasa sudah tak hangat lagi didekap

Saat itu, Bulan Romadhon, hari ketujuh puasa.
Kabar Duka di Bulan Bahagia telah datang.


Dan sejak saat itu, Bulan bahagia sudah berkurang bahagianya sedikit. Sebab sebuah hati telah pergi, ditelan bumi dan tak kembali lagi walau sesaat.


Kutacane, 21 September 2014
Di ujung pagi, ketika dirini ini sangat merindukan seorang wanita yang biasa ku panggil ibu.
Ya Robby, Sungguh tak pantas aku menangisi apa-apa yang Engkau ambil dan itu memang milik -Mu
tapi setidaknya, ijinkan aku melihat ibu kelak disyurga-Mu dalam keadaan Bahagia, dengan pakaian syurga yang begitu indahnya

Jumat, 14 Maret 2014

Seperti jalan setapak yang menyusuri hutan belantara
Sesekali datar, sesekali landai, sisanya curam dan bertebing.

Sekilas tanpa ujung,
Berakhir entah dimana

Seperti sebuah harap 
Seperti sebuah cita
Seperti sebuah doa
Yang entah berlabuh dimana 

Bak pelaut yang terombang ambing di tengah Samudera
Hanya bisa menatap tepi dari kejauhan
Terlalu banyak angin yang menyeret

Ini rahasia
Ah berkali kali kukatakan begitu
Tapi gejolak hati membuncah kuat
Menolak untuk percaya 
Tentang rencana Tuhan
Yang Dia rencanakan diam diam


Rabu, 25 September 2013

Mentari naik di pagi berembun hari ini
Dipojok kampung ada kayu cemara yang mulai meranggas
seorang gadis dengan buku lusuh diam disitu
gaun berenda bunga, dengan alas kaki yang mulai terbuka
merangkul kedua lutut dan menekuk dagu
ah, dia malu malu padaku

seliwiran angin menderu-deru
menyibakan rambut yang terurai jatuh ke bahu
matanya membiru, bibirnya pun kelabu
menutup diri, bersedih hati sendiri

seperti kapas yang dihempas angin
terbang satu satu ke penjuru
nafas beratnya terdenger satu satu
ah, dia pun masih malu malu padaku


sedikit sedikit aku tahu,
dia adalah bayang ku
yang sembunyi malu
menutup luka dan pilu
dibawah cemara yang menanti mati 

Senin, 02 September 2013

Angin menyeret ku ke tempah asing nan jauh,
langkah ini mulai tertatih-tatih, terseret, dan terengah-engah menapaki jalan yang duri dan kerikil tajamnya berserak-serak.
Ah, itu karena aku yang sedikit tidak mendengarkan. Ah, itu karena aku sedikit tidak mau melihat.
Begitu kata orang-orang menyalahkan.

Kaki kecilku berlumuran. Bercampur darah dan nanah. Setapak-setapak, dan terseok. Mereka hanya diam berpandang pandangan, orang asing itu nanar melecehkan.
Tanpa arah, malam pun turun di tengah rintik.
Kaki kecilku, berubah biru.

Kaki kecilku, terlihat aneh
sama seperti orang-orang asing itu
Kaki kecilku, hanya ingin menanti.
Menanti angin yang menyeretku, kembali.


Jumat, 19 Juli 2013

JORS



Langit mendung tadi pagi belum sepenuhnya sirna sore ini. Ada semburat jingga diatara
hehimpitan awan diatas. Meski gulita terlalu dini untuk datang, tetapi bulan penuh terlihat. Aku
tak akan menyadari dia ada, jika saja awan yang menutupinya tidak bergerak menjauh. Hanya
dibawah ini yang menyesakkan dada. Macet. Ditambah karbon monoksida dua ratus ppm yang
baru saja kuhirup. Ini akan membuat paru-paruku menua dengan sempurna sebelum waktunya.
Ah, tubuh mungil ku. Berat ku melesat turun delapan kilo baru-baru ini. Para model akan iri
mendengarnya, itu jika telinga mereka seperti sinyal ponselku. Jika mata mereka seperti satelit
pengintai Amerika, para model itu akan tertawa. Kenapa? Karena tinggiku tak lebih dari 145cm.
Sekali lagi dari balik jendela angkot ini, kupandang keatas. Biru, abu-abu, jingga, dan putih.
Bagaimana pun lukisan Sang Maestro itu sungguh menawan. Sama menawannya dengan
ciptaan-Nya yang lain, termasuk aku. Percayalah.

Jika tidak macet, tentu aku sudah sampai lebih awal di rumah. Sudah hampir magrib.
Gereja pun sudah berdentang dari tadi. Kecuali gereja Advent didekat rumah kontrakan kami
pastinya. Aku baru menyadari gereja ini tidak pernah membunyikan lonceng, setelah hampir
setahun tinggal disini. Gereja Advent memang tidak punya lonceng ternyata. Angin berhembus.
Jiwa ku pun melayang dibawa angin, kembali ke-beberapa tahun yang lalu. Dimasa awal kuliah.
Mata ku memang minus, tapi aku tidak tuli. Seorang anak beraksen kental yang aneh, entah dari
daerah mana, sedang mempekenalkan diri dikelas saat itu. Takdir yang begitu manis terkecap
setelahnya.

“Nama saya Siti Sahara. Biasa dipanggil Sarah.” Dia berhenti dan melihat sekeliling dan
melanjutkan dengan cepat, “Jadi, teman-teman bisa memangil Saya Sarah saja. Asal saya dari
Kutacane”. Kemudian gadis itu melirik ke pak dosen  -yang kelak menjadi dosen favorit kami-
meminta diri untuk duduk. Begitulah setiap anak memperkenalkan diri dengan menyebut nama
dan daerah asal. Tapi, dia begitu lain. Begitu unik. Begitu mengusik. Begitu menarik. Si logat
aneh.

Antena kejahilan ku pun tetap sama seperti dulu. Ah, begitu panjang jika dirunut
kejahilan itu. Seperti sekarang ini dan esok dan lusa dan seterusnya. Mari, saya  ajak Anda
menyaksikan sedikit dari aksi akrobatik lidah saya. Semoga ini tidak terkategori bullying.

Jika dia, gadis dengan logat aneh itu, berkenalan dengan teman yang lain, saya selalu
menimpali dengan intonasi cepat dan nada melucu. Menirukan logat anehnya.
“Dia Siti Sahara. Biasa dipanggil Sarah”.

Bahkan ketika dia lewat didepan teman-teman, saya akan berkata dengan jahilnya,
“Kenalkan dia ini Siti Sahara. Biasa dipanggil Sarah” 
Kalian tidak akan percaya dengan takdir yang akan me-lasso kami kelak. Kali ini tidak hanya
manis, tapi nano-nano. Percayalah.

Akhirnya, angkot ini mengantarkan ku tepat didepan  jalan Bahagia. Sekali lagi
percayalah, bukan aku yang menjahili nama jalan ini. Memang namanya jalan Bahagia,
sebahagia hatiku hari ini. Betapa tidak, perut keroncongan ku, telah terselamatkan oleh kudapan
lezat di rumah Dek Lila. Pulang mengajar sesore ini, tak kusangka akan berpapasan dengan
JORS. Aku bertemu dengan JORS lagi. Dua hari yang lalu dan kemarin pun aku bertemu JORS.
Beberapa orang dirumah –maksudnya kontrakan kami,  our second home- pun senang dengan
JORS yang kubawa masuk kekotrakan kami. Kau tak tahu betapa manisnya ia. Percayalah, apa
mungkin aku menjahili mu?

Dengan cerewet, aku berteriak girang. Itu karena air.
“yeah, air hiduuuup...!!! hore, hore”

Aku sudah tahu tetangga bisa mendengar, tapi aku tak peduli. Rumah gempet memang
punya kelebihan, yaitu merambatkan suara secepat suara itu dikeluarkan. Begitupun dengan
orang rumah yang sudah mengabaikan kebiasaan bersenandung dan menjeritku dikamar mandi.
Kamar mandi ini berbentuk aneh, batinku. Selepas keluar dari kamar mandi, seng tanpa asbes
diatas kamar mandi dapat membuat kulit menjadi kemerah-merahan disiang hari. Syukur ini
magrib. Luas kamar mandi harus dihitung menggunakan ..... karena bentuknya abstrak. Tidak
persegi, karena ada tambahan WC horor dipojoknya. WC horor punya ruangan tersendiri di
kamar mandi. Ruangan itu berukuran kurang dari 1x1 m dan tanpa penerangan. Tidak ada yang
punya kamar mandi seperti ini.

Oh, air. I love you. Aku bagai petani yang melihat rintik hujan pertama yang mengakhiri
kemarau panjang. Senang sekali, aroma bunga bangkai ditubuhku akan segera lenyap. Meskipun,
saat ini sabunku habis. Aku dapat menggunakan sabun sohibku, setelah terlebih dahulu meminta
izin. Sopan santun ajaran emak, izin dulu kalau mau pakai barang orang lain. Memasuki guyuran
kesekian, akhirnya elektron statis yang membuat pegal ini ikut hanyut dibawa air. Tahukah
kamu, biasanya air mati di rumah kami saat magrib. Kadang tidakku temukan padanan kata yang
tepat untuk ‘air mati’. Bukankah terlalu panjang, jika ku sebutkan begini : “air tidak mengalir
dari keran rumah kami”. Air mati is sounds simple, isn’t it ? Meski tidak secara harfiah betul-
betul mati.

Apakah Kodya Medan kekurangan pasokan air ? Entahlah.

Hanya mesin-mesin penyedot air yang tahu jawabannya. Setiap rumah bertingkat di
depan gang, punya mesin penyedot air. Biasa mereka sebut dengan mereknya, Sanyo. Terkadang tidak bermerek Sanyo pun, tetap saja dikatakan Sanyo. Ya, seperti istilah air mati di atas.
Penyebutan begitu lebih mudah. Si Rumah Bertingkat di depan gang itu menyedot jatah air orang
belakang. Inilah jawaban, mengapa kebanyakan warga medan mempunyai sumur air di rumah
mereka, selain bak mandi konvensional. Jadi, orang-orang yang berada di gang belakang akan
menyiasati mandi sebelum subuh. Bahkan mandi disepertiga malam. Lalu dilanjutkan mandi
sebelum jam pulang kerja kantoran, sekitar jam tiga sore. Itu demi bisa menikmati air yang bagai
emas dijam-jam tertentu. Setetespun berharga.

Selepas mandi aku mulai menceritakan antusiameku mengajari anak secerdas Alila, yang
setia mendengarkan ku hanya. Ayo tebak? Ya, nama saya Siti Sahara. Biasa dipanggil Sarah.
She’s my best gift i ever have. Thank God. Bayangkan dari empat pasang kuping, kupingku tak
masuk hitungan, hanya dialah yang mendengar dengan mata berbinar. Seolah aku mengeluarkan
permata dari mulutku. Lagi pula kami memang selalu berbagi apapun sejak menjadi akrab. Baik
itu sepotong roti, seteguk air, cerita duka, suka,  sekeping recehan, kecuali berbagi pakaian
dalam. Itu pantang. Hehe. Kali ini kebahagianku bertambah lagi, karena tak perlu jadi radio
rusak, seperti biasanya. Terkadang Sarah sibuk ngutak-atik matlab dilaptopnya. Jadi, kadang aku
hanya seperti radio rusak yang tak didengarkan.

Kalian yang dari ekonomi menengah atas tidak akan pernah merasakan ini. Bahwa suatu
ketika ditahun pertama perkuliahan, kami pernah berjalan kaki menuju pasar yang cukup jauh.
FMIPA USU (Bukan Utah State University) – Pajak (Pasar) Sore, silahkan ukur sendiri dengan
meteran. Gak punya meteran, ini aku punya dua. Tukang jahit dulunya, sekarang juga. Menjahit
untuk diri sendiri dan kalangan sendiri. Jadi, teringat mesinku yang terendam banjir –banjir yang
membuat USU juga libur saat itu. Dia jadi rusak. Wah, air.  I don’t love waktu itu. Omong-
omong, kenapa kami jalan saat itu dan kenapa jalan  saja digambarkan sebagai penderitaan?
Karena, kami gak punya duit. Jika punya, gak bisa disia-siakan barang se-sen pun. Bahkan untuk
naik becak. Jajan aja pake acara nahan nafsu. Sungguh saat itu serasa krisis ’98 melanda kami.
NB : Bagi yang belum kebayang kelelahan berjalan dari FMIPA USU menuju Pajak
Sore. Silahkan lari-lari kecil ditempat selama 30 menit, saya rasa itu sepadan. Satu
lagi, lakukan itu dalam keadaan lapar.

Cerita duka lainya. Lah, kok cerita duka terus ya? Aah, memang cerita duka yang bisa
melecut kami menjadi jiwa pemberani seperti sekarang. Tidak cemen, hanya kadang galau ketika
kantong harus segera menerima bailout halal dari rekan sejawat. Laa yukallifullahu nafsan illa
wus’aha. Benarkan?

Suatu waktu. Sarah megangin perut.
 “Lapar ya?”, kata ku padanya. Pikirku, lengkaplah sudah semua pendertiaan ini. Lapar,
lemas, dan kaki harus tetap jalan menuju tempat perebahan, rumah. Terik pun ikut menjilati
nyawa kami. Sewaktu itu kami belum tinggal satu kontrakan. Jangan tanya aku tinggal dimana.
Percayalah, aku masih sedikit beruntung dari tunawisma yang membuatku hampir menangis jika
melihat mereka tidur diemperan toko. Bagaimana jika hujan? Terselip luka kecewa ku terhadap
para pemimpin negeri ini. Negeri yang punya gunung emas Grasberg ini.

“Iya, lapar. Misna jugakan?”

Aku hanya mengangguk pelan, seperti hendak menghemat energi. Kemudian aku mulai
tersenyum-senyum sendiri. Mungkin Sarah melihat aku mulai irrasional -seperti bilangan yang
akan menjadi teman hidup kami- akibat lapar. Aku lupa mengatakan pada kalian, kami jurusan
matematika USU. Aku tersenyum, karena teringat dengan sahabat Rosullullah –entah siapa,
lupa– yang menganjal perutnya dengan satu batu dan mengadu pada Rosul dia lapar dan belum
makan, entah sudah berapa hari. Lebih dari itu, aku semakin terkesima melihat dua batu. Ya, dua
batu. Dua batu yang diikatkan Rosul di perutnya. Menunjukkan, dia pun lebih lapar. Cara cerdas
untuk mengatakan pada sahabatnya, “Sabarlah. Aku tahu apa yang kau rasakan”. Seketika
itu rasanya ingin menangis. Adakah pemimpin republik ini yang dapat merasakan jerit lapar
rakyatnya. Bukan lapar kami. Tapi, bayi-bayi yang mati setelah busung lapar alias kukurangan
nutrisi. Bukan lapar kami. Tapi, lapar mbok minah yang ‘mengambil’ tiga buah kakau. Aku
semakin ingin menangis.

Tidak, tidak. Aku manusia periang sejagat, batinku  menguatkan. Jangan sampai aku
menagis didepan sahabat baruku ini. Kemudian disepanjang jalan aku tidak lagi diam. Mulai
berceloteh. Kami mengganjal lapar kami dengan kata-kata. Ya, mulai dari guyonan basi sampai
yang bertaji. Saat itu saya yakin aksi duet guyon jalanan kami bisa mengalahkan pamor Opera
Van Java (OPJ). Kali ini aku tak akan memaksa mu untuk percaya mengenai OPJ itu.


Sekarang beberapa tahun berlalu. Aku dan sahabatku. Juga kenangan kami. Aku dan
lengan atasnya yang gempal dan spesial. Aku selalu  mengamitnya dilengan atas itu, untuk
menghentikan langkahnya yang besar. Aduh orang kecil memang gampang nyelip, tapi susah di
ajakin tanding jalan dengan orang setinggi 165cm, seperti  Sarah. Beberapa jam kemudian,
sepulang ngampus, kami sampai juga akhirnya di Jalan Bahagia. Kami serasa Rendevous dengan
JORS, karena kali ini dia datang lagi. JORS yang manis.

Aku ingat perjumpaan kami bertiga; aku, sarah dan JORS untuk pertama kali. Sekarang
entah masuk perjumpaan yang keberapa. Kami berjumpa dengan JORS di Gang Sempurna. Itu
nama gang tempat kontrakan kami yang pertama. Lalu  kami pindah ke  Jalan Bahagia. Aduh gang Sempurna dan jalan Bahagia. Seperti mengisyarakan  sempurnanya kebahagian kami
bertemu dengan JORS hari ini. Kami selalu berebut JORS yang paling besar. Hah?

Ya. Percayalah, teman.

Kemudian, rezekiku mendapatkan JORS yang kecil. Tak ada pilihan lain, karena JORS
tersisa dua. Sarah pun akan melirik ku, entah itu tatapan iba atau mengejek. Huft, aku menghela
napas melihat JORS besar ditangan Sarah.

Hah, JORS ada dua. Tidak, tidak. Tersisa dua? Emangnya ada berapa sebelumnya?
Kemudian yang satunya ada ditangan Sarah.
Wah, ini gila.

Tetaplah percaya, teman. Sarah bahkan mematahkan JORS besarnya dan memberikanku
patahan yang besar. Ternyata dia iba melihat JORS kecilku. Aku pun melakukan hal yang sama,
dan memberikan patahan terbesar dari JORS kecilku padanya. Patah dan mematahkan. Ini mulai
sadis.

Maaf, ini sudah keterlaluan ya?
Maaf. JORS  is really  sweet. JORS kami adalah jangung rebus. Setiap pak tukang jual
jangung rebus ini lewat dia selalu memberi sinyal dengan kring-kring yang berasal dari sepeda
ontelnya  plus teriakan yang terdengar seperti JOoRS...JOoRS... dengan huruf ‘S’ terdengar
seperti orang kumur-kumur.

Jika fenomena JORS dan tukang jagung rebus keliling tidak ada didaerah mu, datanglah
kesini, di jalan Bahagia, Medan. Bukan hanya JORS yang akan didapati disini, banyak panganan
lainnya. Mulai dari roti toet-toet, bakso tusuk bakar, bubur, rujak, sate, bakso arema dan banyak
lagi. Tetapi, menurutku JORS adalah jajanan tersehat. Dirumah kedua ini kami menyadari,
monosodium glutamat dan sejenisnya haruslah dihindari. Fenomena pedagang keliling ini
menunjukkan bahwa rakyat menengah kebawah yang dikatakan ‘pemalas’ ini, tidaklah malas.
Mereka mengayuh sepeda berkilometer untuk menjemput rezeki dengan jalan yang ma’ruf.
Tidak dari hasil menilep uang orang lain dan tidak pula dari hasil penipuan dan penggelapan
anggaran negara yang sekarang melanda partai penguasa.



Lalu kami mulai mengigit JORS kami dengan khidmat,  hingga yang tinggal hanya
bonggolnya saja. Disaat bersamaan langit tidak lagi jingga, meski waktu magrib telah tiba.
                                                             

Ah, Ara!!

Dulu, ada gadis kecil dengan gaun berenda suka duduk menekuk lutut dibawah pohon pinus tua tak berdaun. Kepalanya tak sekalipun diangkat. S...